MeMinds Forum: Indonesia Berpotensi Besar Berkembang dengan Wakaf

Tadi malam Whatsapp Mba Neng Herba menarik perhatian saya. "Ikutan Me Minds besok ya. Ajak temen-temen," katanya sambil mengirim hasil forward undangan untuk MeMinds. Lalu saya ajak beberapa volunteer Inovator 4.0 Indonesia. Sukses, setelah hari sebelumnya juga ikutan IIF, beberapa orang mengajukan diri untuk ikut forum yang pembicaranya benar-benar berkualitas tersebut. 

Hadi Mubarak dan Wanto menyatakan ketertarikannya. Mba Unique juga ingin ikut, tapi kemudian menyatakan tidak bisa karena ada pekerjaan lain. Dia memang relawan lapangan yang sibuk sekali mengurusi aktivitasnya. "mauuuu...but harus urusan yg enih dulu" katanya.

"Pukul 10:00 kita ketemuan di The Tribrata Dharmawangsa ya!" kata saya. Hadi mengiyakan. Dia memang selalu disiplin kalau ikut undangan. Wasto baru bisa siang. Saya? Rencana sudah pukul 08:00 dari rumah, ternyata terhalan macet akibat hujan. Ya sudah, akhirnya baru Pukul 11:00 sampai di Dharmawangsa. 

Pertemuan sudah berjalan, dan Hadi membantu saya dengan update-updatenya di pertemuan, jadi sejak awal, walaupun terlambat, saya bisa mengukuti

isi forumnya. Sebagian besar pertemuan diisi dengan topik waqaf. Selama ini di sebagian besar penduduk Indonesia menganggap waqaf masih sekedar pemberian tanah untuk keperluan masjid, kuburan, atau pesantren/madrasah. Padahal menurut syariat Islam, waqaf bisa berbentuk apa saja dan keperluan apapun yang bermanfaat bagi masyarakat. 


Pengelola waqaf juga bisa saja mengambil sebagian dari dana waqaf untuk operasional dan kebutuhan lainnya, sehingga bisa mendorong perekonomian. Di dalam forum ini juga diingatkan bahwa saat ini baru 49 persen masyarakat Indonesia yang tersentuh lembaga keuangan, dalam bentuk kepemilikan rekening di Bank. Problem inklusi finansial ini terjadi di negara manapun dengan variasinya masing-masing. Turki, misalnya, walaupun masuk dalam ekonomi Eropa dan kondisi perekonomiannya bisa dibilang lebih baik, juga mengalami masalah inklusi keuangannya sendiri. Indonesia, di sisi lain, walau lebih baik dari negara Afrika maupun Asia Selatan, namun masih menghadapi problem inklusi keuangan di daerah rural atau pedesaan.

Forum ini diteruskan dengan dialog, yang salah satunya dalam bentuk pertanyaan, bagaimana instituasi keuangan Islam menyikapi perkembangan teknologi yang mendisrupsi bahkan diramalkan akan menghancurkan perbankan, misalnya Blockchain. Lalu mengenai argumen yang menyatakan bahwa Bank Syariah sebenarnya nyaris sama dengan perbankan konvensional, hanya berbeda nama. Kemudian ditutup dengan pertanyaan apakah ekonomi yang bottom lebih baik atau lebih buruk dibanding pendekatan top down. 

The Meeting of Minds, alias MeMinds, adalah forum yang digerakkan oleh anak-anak muda Indonesia yang memiliki kepedulian atas perekonomian global dan pengaruhnya bagi Indonesia. Meeting ini menghadirkan tokoh-tokoh penting di wilayah Asia Tenggara untuk kemudian berbagi pemikiran dalam memajukan wilayah tersebut dan bisa menghasilkan kerjasama lebih baik dengan Timur Tengah, Afrika Utara, dan Asia Tengah. Dan khusus hari kedua ini, wacana besarnya adalah perekonomian berbasis Islam, terutama waqaf untuk menyelesaikan problem inklusi keuangan. 

"Indonesia memainkan peran penting dalam forum ini karena negara ini merupakan ekonomi terbesar di wilayah Asia Tenggara, dengan lebih dari 270 juta populasi dan muslim sebagai mayoritas. Pesatnya pertumbuhan keuangan dan perbankan Islam, Indonesia akan menjadi acuan studi berharga bagi dunia," ucap Salina Nordin, sebagai Wakil Ketua MeMinds Forum, seperti dikutip suara.com.

Selain masalah perekonomian berbasis syariah, di dalamnya juga dibahas pemberdayaan gender dan kaum muda, peran sains dalam biologi baru dan bioteknologi, Kecerdasan Buatan (AI) dan revolusi Teknologi Informasi Komunikasi, serta Kebijakan Berkelanjutan untuk Hutan, Agrikultur, dan Ketahan Pangan.

Selain forum berbentuk seminar, MeMinds juga memfasilitasi pameran berbagai inovasi yang dihasilkan oleh Inonesia, termasuk di antaranya Robo Tani dan Tani Hub. Dan di luar, juga disediakan sesi networking yang memungkinkan peserta membangun jejaring dengan tokoh-tokoh ternama.